Ekspansi Gresik Migas Menunggu Izin, Direksi Baru Diminta Jaga Kesehatan Keuangan

Reporter : Redaksi
Pelantikan direksi baru Gresik Migas menjadi awal pembenahan tata kelola dan evaluasi pengembangan bisnis perusahaan.

SiagaKota.com – PT Gresik Migas menyiapkan sejumlah peluang pengembangan usaha di tengah upaya memperkuat tata kelola dan efisiensi perusahaan. Namun, rencana pembangunan SPBUN Ujungpangkah, penjajakan Participating Interest di Wilayah Kerja Tuban, serta pengelolaan sumur tua masih membutuhkan tahapan lanjutan sebelum dapat berkontribusi terhadap pendapatan.

Direktur Utama Gresik Migas, Azhar Adam Abdurrohman, menyatakan langkah awal kepemimpinannya difokuskan pada pemetaan kondisi perusahaan, mulai dari keuangan, efektivitas operasional, hingga peluang bisnis.

Menurutnya, setiap pengembangan usaha harus melalui kajian teknis, komersial, keuangan, dan risiko agar keputusan investasi dapat dipertanggungjawabkan.

Tiga Peluang Usaha Masih Berproses
Rencana pertama adalah pembangunan SPBUN di Ujungpangkah. Manajemen berharap fasilitas tersebut dapat beroperasi pada 2027, tetapi proses perizinan dan kesiapan pelaksanaan masih menjadi faktor penentu.

Peluang kedua berupa penjajakan Participating Interest di Wilayah Kerja Tuban. Adam menyebut dua pertemuan telah dilakukan untuk membahas pembagian hasil antara Pemerintah Kabupaten Gresik dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Sementara itu, pengelolaan sumur tua Sekarkurung direncanakan menggunakan teknologi artificial lift untuk membantu produksi fluida dari sumur. Rencana tersebut masih menunggu proses perizinan dari Kementerian ESDM.

Belum ada target pendapatan rinci yang diumumkan untuk ketiga peluang tersebut.

Bisnis Eksisting Ikut Dievaluasi
Selain merencanakan ekspansi, direksi baru akan mengevaluasi dua lini usaha yang telah berjalan, yakni penyewaan pipa gas atau PPF dan SPBU ritel.

Penilaian meliputi pendapatan, biaya operasional, pemanfaatan aset, keselamatan, dan keberlanjutan usaha. Hasil evaluasi diharapkan menjadi dasar untuk menentukan langkah peningkatan produktivitas serta efisiensi.

Langkah ini penting karena ekspansi bisnis membutuhkan modal dan harus mempertimbangkan potensi arus kas, waktu pengembalian investasi, serta risiko apabila pendapatan tidak sesuai proyeksi.

Dividen Bergantung pada Kinerja Keuangan
Sebagai badan usaha milik daerah, Gresik Migas tidak hanya dituntut mempertahankan operasional, tetapi juga menghasilkan kinerja keuangan yang sehat dan memberikan manfaat bagi daerah.

Adam mengatakan evaluasi keuangan akan mencakup efektivitas biaya, produktivitas aset, pengelolaan arus kas, dan kontribusi setiap lini usaha. Kebijakan pembagian dividen, menurutnya, perlu mempertimbangkan laporan keuangan serta mekanisme pengambilan keputusan sesuai peraturan.

Dengan demikian, keberhasilan pengembangan usaha tidak cukup diukur dari banyaknya proyek yang direncanakan. Realisasi pendapatan, efisiensi operasional, dan kemampuan perusahaan menjaga keuangan juga menjadi indikator penting.

Seratus Hari Pertama Fokus pada Pembenahan
Dalam 100 hari pertama, Adam memprioritaskan penguatan tata kelola, koordinasi internal, optimalisasi usaha yang sudah berjalan, dan penyusunan arah pengembangan bisnis secara bertahap.

Manajemen berharap pembenahan tersebut dapat memperkuat fondasi perusahaan sebelum melakukan ekspansi lebih jauh.

Rencana bisnis Gresik Migas selanjutnya akan bergantung pada hasil kajian, kesiapan pendanaan, proses perizinan, serta kemampuan setiap lini usaha menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru