Dari Dua Menjadi 10 Anak, Program Terapi MAC Bantu Keluarga Kurang Mampu di Malang

Reporter : Redaksi
Malang Autism Center memperluas akses terapi bagi anak dengan autisme melalui program Omah Terapi Autis.

Siagakota.com – Akses terapi bagi anak dengan autisme dari keluarga kurang mampu menjadi salah satu perhatian Malang Autism Center (MAC) dalam perjalanan 11 tahun lembaga tersebut. Melalui program Omah Terapi Autis (OTA), MAC berupaya memberikan kesempatan kepada keluarga dengan keterbatasan ekonomi agar tetap bisa mendapatkan layanan pendampingan.

Program yang awalnya melayani dua anak itu kini berkembang menjadi 10 anak penerima layanan. Jangkauannya juga diperluas melalui OTA Neptunus pada 2022 dan OTA Bululawang pada 2024.

Baca juga: Raih Predikat Paguyuban Inspiratif, Sinar Mas Jatim Kini Masuk Era Kepemimpinan Dodik Ariyanto

Founder MAC, Mohammad Cahyadi, mengatakan lembaganya ingin memperluas manfaat layanan, tidak hanya melalui pengembangan fasilitas, tetapi juga melalui program sosial yang menyentuh kebutuhan keluarga.

Hal tersebut disampaikan saat memperingati 11 tahun MAC di Omah Terapi Autis, Jalan Neptunus Nomor 4B, Tata Surya, Tlogomas, Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jumat (30/10/2026).

Biaya Terapi Disesuaikan Kemampuan Keluarga
Cahyadi menjelaskan, setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan berbeda. Karena itu, proses pendampingan harus disesuaikan dengan kemampuan dan tahap perkembangan masing-masing.

“Bagi kami, setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendampingan harus dilakukan sesuai kemampuan dan perkembangan masing-masing anak. Melalui program Omah Terapi Autis (OTA), kami ingin membantu keluarga dengan keterbatasan ekonomi agar tetap memiliki kesempatan mendapatkan layanan terapi,” jelasnya.

Salah satu keluarga penerima manfaat, Uswatun Hasanah, warga Bululawang, Kabupaten Malang, mengaku melihat perkembangan positif pada anaknya setelah menjalani terapi selama tiga bulan.

Menurut Uswatun, sebelumnya anaknya sangat aktif, sulit diarahkan, dan belum mau mengikuti pembelajaran. Kini anaknya mulai lebih tenang, mudah diarahkan, serta menunjukkan respons ketika dipanggil.

“Alhamdulillah, setelah menjalani terapi selama tiga bulan, sudah terlihat perkembangannya. Awalnya anak saya sangat aktif, sulit diarahkan, dan tidak mau diajari. Sekarang sudah mulai lebih tenang, lebih mudah diatur, dan mau mengikuti arahan. Kalau dipanggil juga sudah mulai merespons,” tuturnya.

Ia mengetahui MAC dari teman yang anaknya juga menjalani terapi di tempat tersebut. Uswatun berharap anaknya terus mengalami perkembangan yang lebih baik.

Ia juga menyebut biaya terapi sekitar Rp150 ribu per tahun masih terjangkau bagi keluarganya. Suaminya bekerja sebagai pedagang, sedangkan dirinya merupakan ibu rumah tangga.

Kembangkan Layanan hingga Empat Lokasi
MAC berdiri pada Oktober 2015 di Kabupaten Malang sebagai pusat layanan terapi perilaku berbasis Applied Behavior Analysis (ABA). Pendekatan tersebut digunakan untuk mendukung proses belajar, pengembangan keterampilan, dan kemandirian anak sesuai potensinya.

Memasuki usia ke-11 dengan tema “11 Tahun Bertumbuh, Berbagi, dan Terus Memberi Arti”, MAC mengembangkan fasilitas pelayanan dari satu gedung menjadi empat lokasi pengembangan.

Setelah pembangunan gedung kedua pada 2025, MAC merencanakan pembangunan gedung ketiga di kawasan Manggar, Kecamatan Dau, serta gedung keempat di Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Selain layanan terapi, MAC berkolaborasi dengan Posyandu Disabilitas Kelurahan Penanggungan untuk mengidentifikasi dan mendata penyandang disabilitas yang membutuhkan fisioterapi. Layanan lanjutan dapat diakses melalui Klinik Patria milik MAC.

MAC juga menjalankan program Nasi Berkah. Kegiatan yang dimulai setiap Jumat pada 2023 tersebut berkembang menjadi kegiatan harian sejak 2025.

Selain berbagi makanan, program itu menjadi sarana pembelajaran praktis bagi anak dengan autisme melalui aktivitas terstruktur dan pendampingan untuk melatih tanggung jawab, keterampilan, serta kemandirian.

Perluas Kepedulian terhadap Anak dengan Autisme
Cahyadi berharap perjalanan 11 tahun MAC dapat memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, tenaga profesional, dan berbagai pihak agar semakin banyak anak memperoleh kesempatan belajar dan berkembang.

“Ke depan, kami ingin memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, tenaga profesional, dan berbagai pihak agar semakin banyak anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan mencapai kemandirian,” pungkasnya.

Melalui pengembangan layanan dan program sosial tersebut, MAC berupaya memperluas akses pendampingan sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap anak dengan autisme dan penyandang disabilitas.

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru